Tuesday, March 29, 2011

MAJLIS PENYAMPAIAN HADIAH PELAJAR CEMERLANG

Berselera sungguh Hadi dan kawan2 makan jamuan spesial untuk pelajar cemerlang
Nurul Nadia tempat kedua pelajar tahfiz 1
Nurul Adillah Tempat Kedua Pelajar Tahfiz Tahap 2
Amirul Pelajar Terbaik Tahfiz 1
Iqmal mendapat tempat kedua pelajar Tahfiz terbaik kelas 2
Anis tempat kedua untuk pelajar sekolah
Solihin Tempat ketiga pelajar sekolah
Umairah tempat ketiga pelajar tahfiz 1
Asiah No. 1 Pondok kelas 2
Kak Aisyah No 2 pondok tahap 2
Linda no.3 pondok tahap 2
Maziah No.1 Pljr Pondok Tahap 1
Rafidhah no 3 pondok tahap 1
tenang je muka ustzh Sarah dengan tok guru tahfiz perempuan Ustzh Marwiyah
Selamat berjaya moga yang kurang baik keputusannya akan berusaha lebih gigih lagi pada peperiksaan akan datang.

Wednesday, March 23, 2011

Gempa Bumi zaman Rasulullah s.a.w dan Sahabat

DIkirim oleh epondok di Mac 21, 2011

Oleh: traveller06

Setidaknya dua kali gempa tercatat dalam riwayat hadits Nabi. Yang pertama di Mekah. Dan kedua di Madinah.
Pertama,Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Kuzaimah, ad-Daruquthni, dan lainnya dari Utsman bin Affan bahwa dia berkata,

Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas Gunung Tsabir di Mekah. Bersama beliau; Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung berguncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid.”

Kedua, hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata:
“Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung berguncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.”


Di antara pelajaran besar dalam dua riwayat di atas bahwa ternyata gunung tidak layak berguncang saat ada 4 manusia terbaik ada di atasnya. Nabi harus menghentakkan kaki dan mengeluarkan perintah kepada gunung untuk menghentikan guncangan tersebut.

Di sinilah pelajaran besarnya bagi kita sebagai analisa pertama tentang gempa. Bahwa keberadaan orang-orang shaleh di sebuah masyarakat membuat bumi tidak layak berguncang. Kriteria keshalehan sangat spesifik disebutkan dalam riwayat tersebut. Untuk kita, hanya tinggal dua pilihan mengingat sudah tidak ada lagi nabi. Yaitu: Shiddiq. Kriteria utama Abu Bakar adalah beriman tanpa ada rasa keraguan sedikit pun. Dan Syahid. Mereka yang meninggal fi sabilillah.
Jika manusia dengan dua kriteria itu masih banyak yang hidup di atas bumi, maka bumi tidak layak gempa. Sebaliknya, gempa terjadi manakala bumi telah sepi dari keberadaan orang-orang dengan keimanan tanpa ada kabut keraguan dan orang-orang yang meninggal fi sabilillah.
Dalam riwayat mursal yang disebutkan oleh Ibnu Abid Dun-ya, setelah Rasulullah menenangkan guncangan beliau berkata kepada para shahabat,
“Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!”
Gempa di Mata Umar bin Khattab radhiallahu anhu
Gempa juga tercatat pernah terjadi di Masa kekhilafahan Umar, sebagaimana yang disampaikan dalam riwayat Ibnu Abid Dun-ya dalam Manaqib Umar. Madinah sebagai pusat pemerintahan kembali berguncang. Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi, “Ada apa denganmu?” Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa,
“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”
Kembali, generasi terbaik itu mengajarkan ilmu mulia bahwa gempa terjadi karena dosa yang dilakukan oleh masyarakat. Umar dengan tegas menyatakan itu. Lebih tegas lagi saat dia bersumpah bahwa jika terjadi gempa susulan, Umar akan meninggalkan Madinah. Karena itu artinya dosa kembali dikerjakan dan tidak kunjung ditaubati.

Gempa di Mata Ka’ab bin Malik radhiallahu anhu
Shahabat Ka’ab bin Malik mempunyai pendapat yang mirip dengan Umar bin Khattabh. Inilah pernyataan lengkapnya tentang gempa,
“Tidaklah bumi berguncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rab nya azza wajalla melihatnya.”
Ka’ab menyebut bahwa guncangan bumi adalah bentuk gemetarannya bumi karena takut kepada Allah yang Maha Melihat kemaksiatan dilakukan di atas bumi-Nya.
Gempa di Mata Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha
Inilah pelajaran yang diberikan oleh guru besar para shahabat dan tabi’in sepeninggal Nabi selama 47 tahun; Aisyah istri Nabi, seperti yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim dalam kitabnya al-Jawabul Kafi.
Suatu saat Anas bin Malik bersama seseorang lainnya mendatangi Aisyah. Orang yang bersama Anas itu bertanya kepada Aisyah: Wahai Ummul Mukminin jelaskan kepadaku tentang gempa.

Aisyah menjelaskan,
“Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: guncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka
Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi mereka?
Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan kemurkaan bagi kafirin.”
Anas berkata: Tidak ada perkataan setelah perkataan Rasul yang paling mendatangkan kegembiraan bagiku melainkan perkataan ini.
Sangat gamblang dan jelas penjelasan Ummul Mukminin Aisyah tentang penyebab spiritual gempa. Tiga dosa yang semuanya marak di zaman kita ini. Khusus untuk dosa yang pertama, Aisyah menggunakan kata istabahu yang artinya masyarakat telah menganggap zina itu mubah[perkare biase]. Zina tidak hanya dilakukan, tetapi telah dianggap mubah. Dari ucapan, tindakan, kebijakan sebuah masyarakat bisa dibaca bahwa mereka yang telah meremehkan dosa zina, memang layak dihukum dengan gempa.
Inilah Kesimpulannya…
Dari semua pernyataan hamba-hamba terbaik Allah di muka bumi ini tentang gempa, ternyata penyebab spiritual gempa adalah sebagai berikut:
1. Sedikitnya orang-orang shiddiq [jujur dan amanah ] dan syahid yang tinggal di atas muka bumi
2. Masyarakat telah menghalalkan zina
3. Masyarakat telah mengkonsumsi khamar (narkoba)
4. Masyarakat telah memainkan muzik tanpa memikirkan larangan ALLah
Dan Inilah 4 Solusi dari Khalifah Adil…
Umar bin Abdul Aziz yang memerintah tahun 99 H – 101 H dengan prestasi fantastik dalam memakmurkan masyarakatnya hanya dalam 29 itu memberikan solusi terhadap gempa. Hal ini berawal dari gempa yang terjadi di zaman pemerintahannya. Selepas gempa mengguncang, Umar bin Abdul Aziz segera menulis surat instruksi kepada semua jajaran pejabatnya di seluruh negeri kekuasaannya. Dan inilah instruksinya,
“Gempa ini adalah sesuatu yang Allah azza wajalla gunakan untuk menegur hamba-hamba-Nya. Saya telah menulis perintah ke seluruh wilayah agar mereka keluar pada hari yang telah ditentukan pada bulan yang telah ditentukan, siapa yang mempunyai sesuatu maka bershadaqahlah karena Allah berfirman,
Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),
dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat. (Qs. Al-A’la: 14-15)
Dan katakanlah sebagaimana Adam berkata,
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf: 23)
Dan katakanlah sebagaimana Nuh berkata,
“Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Hud: 47)
Dan katakanlah sebagaimana Yunus berkata,
“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Anbiya’: 87)

Dikirim dalam Fokus Isu | 1 Komen »

SUNAT akad nikah dalam masjid

DIkirim oleh epondok di Mac 23, 2011

Akad Nikah Dalam Masjid : Antara Jumhur dan Imam Syawkani

Isu ini akan ditinjau dari kaca mata Mazhab Syafie. Kemudian, jika ada keperluan, ia akan disoroti melalui jendela mazhab-mazhab lain.

1.Pandangan Mazhab Syafie

Sekurang-kurangnya terdapat 3 karya ulama Mazhab Syafie yang memperkatakan tentang isu ini.

Pertama : Fathul Ma’in karangan Imam Zainuddin al-Malibari;
Kedua : I’anah al-Tolibin karangan Sayyid al-Bakri al-Dumyati; dan
Ketiga : Tuhfatul Muhtaj karangan Syaikh Ibnu Hajar al-Haytami.

Ketiga-tiga karya ini bersepakat menyatakan, melakukan akad nikah dalam masjid adalah SUNAT.

Mereka berdalilkan hadis Nabi s.a.w yang direkodkan oleh al-Tabarani dan Tirmizi. Ia diriwayatkan oleh Syaidatina Aisyah r.a.

Hadis tersebut berbunyi :

أعْلِنُوا هذا النكاحَ واجْعَلوه في المساجد واضْرِبوا عليه بالدفوف

Terjemahan : “Umumkan [kepada khalayak] pernikahan ini dan jadikan [urusan akad] nya di masjid serta pukullah kompang”

Pengarang I’anah al-Tolibin mencatatkan :

ويسن أن يكون العقد في المسجد. قال في التحفة: للأمر به في خبر الطبراني

Terjemahan : “Dan disunatkan akad [nikah] dilakukan dalam masjid. Berkata [Syaikh Ibnu Hajar al-Haytami] dalam [kitabnya] Tuhfah, [disunatkan melakukan akad nikah dalam masjid] kerana [adanya] perintah [berbuat demikian] dalam hadis [yang direkodkan oleh] al-Tabarani”.

Ringkasnya, melakukan akad nikah dalam masjid adalah SUNAT menurut mazhab Syafie.

2.Pandangan mazhab 4

Menurut Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, jumhur (majoriti) ulama mengatakan, SUNAT melakukan akad nikah di masjid (jilid 39, ms.221).

Mereka terdiri daripada ulama-ulama Mazhab Syafie dan Hanafi (jilid 32, ms.6) serta Mazhab Hambali (rujuk kitab Fatawa Wa Istisyarat Mauqi’ al-Islam al-Yaum, jilid 11, ms.231)

Manakala Mazhab Maliki mengatakannya HARUS sahaja, bukannya sunat (Mausu’ah Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah, jilid 32. ms.6)

Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah mencatatkan :

قال الحنفية والشافعية يندب عقد النكاح في المسجد، لحديث “أعلنوا هذا النكاح، واجعلوه في المساجد، واضربوا عليه بالدفوف” وقال المالكية إنه جائز

Terjemahan : “Berkata ulama-ulama [mazhab] Hanafi dan Syafie, disunatkan [dilakukan] akad nikah dalam masjid berdasarkan hadis “umumkan [kepada khalayak] pernikahan ini dan jadikan [urusan akad] nya dalam masjid serta pukullah kompang”. Berkata ulama-ulama [mazhab] Maliki, ia (melakukan akad nikah di masjid adalah) harus”.

Ulama-ulama lain yang turut mengatakan sunat melakukan akad nikah dalam masjid ialah Imam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa dan Imam Ibnu Qayyim dalam I’lam al-Muwaqqi’in (rujuk kitab Fatawa Wa Istisyarat Mauqi’ al-Islam al-Yaum, jilid 11, ms.231).

Kesimpulannya, para ulama 4 mazhab (Syafie, Hanafi, Maliki dan Hambali) bersepakat mengatakan sunat melakukan akad nikah dalam masjid (rujuk kitab Fatawa Wa Istisyarat Mauqi’ al-Islam al-Yaum, jilid 11, ms.259)

Dalil Jumhur Ulama

Jumhur ulama bersandarkan kepada dalil-dalil berikut :

Pertama : Hadis Tabarani di atas;

Kedua : Akad nikah dilakukan di masjid bagi mengambil keberkatan masjid

Ketiga : Masjid adalah tempat yang diketahui ramai. Justeru, melakukan akad nikah dalam masjid akan menyebarkan berita perkahwinan. Manakala penyebaran berita perkahwinan pula adalah satu tuntutan syarak.

Keempat : Nikah adalah ibadat. Justeru, sunat dilakukan akad dalam masjid.

Penilaian terhadap hadis

Para ulama hadis berbeza pendapat dalam menilai hadis Tabarani di atas seperti berikut :

Pertama : Hadis Tabarani adalah hadis hassan.

Ini dinyatakan oleh al-Hafiz al-Sakhawi dalam al-Maqasid al-Hasanah, jilid 1, ms.36, al-’Ajluni dalam Kasyful Khafa’, jilid 1, ms.145 dan lain-lain.

Kedua : Hadis ini dhaif.

Ini dinyatakan oleh Imam al-Bayhaqi (Tahir al-Hindi dalam Tazkirah al-Maudhu’at, jilid 1, ms.55), al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil, jilid 7, ms.50 dan lain-lain.

3.Pandangan Imam Syawkani

Imam Syawkani mempunyai pendapat yang berbeza dengan jumhur ulama. Bagi beliau, akad nikah TIDAK HARUS dilakukan dalam masjid.

Ini kerana, masjid hanya dibina bagi menjadi tempat mengingati Allah dan mendirikan solat.

Justeru, perkara-perkara lain selain mengingati Allah dan mendirikan solat, tidak boleh dilakukan di dalam masjid, kecuali dengan adanya dalil khusus yang mengharuskannya.

Dengan sebab itu, makan, minum, tidur dan membaca syair dalam masjid diharuskan kerana ada dalil khusus yang mengharuskannya.

Beliau mencatatkan dalam kitabnya al-Sail al-Jarrar (jilid 2, ms.247-248) :

فالمساجد إنما بنيت لذكر الله والصلاة، فلا يجوز فيها غير ذلك إلا بدليل يخصص هذا العموم، كما وقع من لعب الحبشة بحرابهم في مسجده – صلى الله عليه وسلم-،وهو ينظر، وكما قرر من كانوا يتناشدون الأشعار فيه

Terjemahan : “Masjid sesungguhnya dibina bagi [menjadi tempat] mengingati Allah dan [mendirikan] solat, maka TIDAK HARUS [dilakukan] di dalamnya (masjid) selain [daripada] itu, melainkan dengan [adanya] dalil yang mengkhususkan keumuman [hukum] ini, seperti permainan lembing oleh orang-orang Habsyah di masjid Nabi s.a.w sambil Baginda melihatnya dan seperti perakuan [Nabi s.a.w] kepada orang-orang yang membaca syair di dalamnya (masjid)”.

Imam Syawkani tidak menerima hadis Tabarani di atas yang menjadi dalil jumhur ulama, kerana ia adalah hadis dhaif pada penilaian beliau (rujuk Nayl al-Awtar, jilid 6, ms.211).

4.Kesimpulan

Pembentangan di atas dapat disimpulkan seperti berikut :

1. Mazhab Syafie dan 3 lagi Mazhab iaitu Hanafi, Maliki dan Hambali bersepakat mengatakan SUNAT melakukan akad nikah di masjid.

Justeru, kenyataan yang tepat yang perlu dinyatakan oleh pihak berkuasa agama berhubung isu ini ialah, ”melakukan akad nikah dalam masjid adalah sunat menurut jumhur ulama dari pelbagai mazhab, termasuk mazhab rasmi negara, mazhab Syafie”.

Jelasnya, keharusan melakukan akad nikah dalam masjid bukan semata-mata bersandarkan kepada isu pentadbiran, iaitu memudahkan urusan perkahwinan dan menjimatkan masa.

2. Berdasarkan pandangan Mazhab Syafie dan jumhur ulama, akad nikah boleh dilakukan dalam masjid secara konsisten.

Ia juga boleh dilakukan dalam masjid dengan iktikad (kepercayaan) bahawa melakukannya dalam masjid ada kelebihannya, iaitu sunat.

Berbeza dengan pandangan Majlis Tetap Fatwa Arab Saudi yang mengatakan melakukan akad nikah dalam masjid secara konsisten, atau beranggapan ia ada kelebihan, adalah bid’ah.(Rujuk : http://www.islam-qa.com/ar/ref/132420)

3. Individu yang menegah dilakukan akad nikah dalam masjid kerana mengambil pandangan di kalangan ulama ada yang berpendapat sedemikian, iaitu Imam Syawkani seperti yang telah dinyatakan.

4. Melakukan akad nikah dalam masjid ditegah kerana ia menyerupai amalan orang Kristian yang melakukannya dalam gereja, tidak berbangkit. Sehinggakan Imam Syawkani sendiri pun tidak menjadikan ‘menyerupai orang Krisitan’, sebagai sebab ditegah melakukan akad nikah dalam masjid.

5. Jagalah adab Masjid semasa berlangsungnya majlis nikah sekali pun

Perlulah dijaga adab apabila berada dalam masjid agar kehormatan dan kemuliaan masjid terpelihara. Antara adabnya iaitu berada dalam keadaan menutup aurat, menghormati orang lain yang melakukan solat atau membaca al-Quran, menjaga pergaulan antara lelaki dan perempuan, jangan membuat bising sehingga menghilangkan kehormatan masjid dan sebagainya. Apabila masuk masjid, bacalah doa-doa ketika masuk masjid.

Antaranya : A’uzhu billahil ‘azhimi wabiwajhihil karim wasulthanil qadiim minas syaithanir Rajim. (Maksudnya: Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan Dengan Wajah-Nya yang Maha Mulia dan Kekuasaan-Nya yang berkekalan daripada syaitan yang direjam).

Selain itu, disunatkan juga bagi orang yang memasuki masjid untuk berniat iktikaf dan melakukan solat sunat Tahiyatul Masjid. Wallahua’lam.

Wallahu a’lam.

Nota : Semua rujukan yang dinyatakan adalah berpandukan Maktabah Syamilah.

http://warisansemasa.blogspot.com

Monday, March 7, 2011

PELAJAR MINUM AIR YASIN





Malam ini semua pelajar lelaki dapat minum air setelah dibacakan yasin dan tahlil secara beramai-ramai, mudah-mudahan akan bertambah kuat iman, rajin beribadah dan hilang semua sifat mazmumah yang berada dalam diri setiap pelajar. Moga Allah memperkenankan doa kami. Bacaan yasin ini juga dibuat sempena ada beberapa pelajar yang mengaji pondok sementara menunggu keputusan SPM akan pulang ke rumah mulai esok kerana keputusan SPM mereka sudah hampir. Kami doakan moga mereka berjaya dunia dan akhirat dan menjadi anak soleh dan solehah.

KULIAH BAHASA ARAB ALQURAN SETIAP MALAM JUMAAT





Setiap malam Jumaat, pondok akan ada pengajian Bahasa Arab dengan menggunakan kaedah membaca Al-Quran serta memami maksudnya. Kuliah ini disampaikan oleh Ust Abu Aiman daripada Ipoh. Hasilnya amat memberansangkan kerana ianya membahaskan mukjizat Nabi iaitu Kalamullah Al-Quran. Diharap bagi penduduk sekitar yang berminat bolehlah datang mengikuti kuliah tersebut.